Rabu, 17 Juni 2009

coming soon !!!!

Film Garuda di Dadaku

Posted on 14 Jun 2009 at 6:38am

garuda-di-dadakuSinopsis Film Garuda di Dadaku : Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya: menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu. Dialah motivator dan “pelatih” cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Namun Pak Usman, kakek Bayu, sangat menentang impian Bayu karena baginya menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan.

Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Terlalu mulukkah impian Bayu untuk menjadi pemain sepak bola yang hebat?

Pemain : Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranagara, Maudy Koesnaedi, Ary Sihasale, Ramzi

Minggu, 14 Juni 2009

AV??PR??JURNALISTIK???

mungkin kebanyakan dari kita masih binggung untuk milih penjurusan apa ntar???
karena ini kelak menentukan masa depan kita.
hho~ ngeri jadinya kalo uda bilang masa depan ??
sementara masii binggung mau masuk konsentrasi apa??
iia gak???
ehmm..
kembali ke masing masing diri kita ja .
minat and bakat kita d bidang apa??
AV mungkin?? ato PR?? bahkan jurnalistik??
end kalo uda mantepiin pilihan kita, semestinya kita harus "niat" ngejaLanin apa iang ud kita pilih tadinya ..
oke?
jadi buat teman'' smua seLamat memilih iia ??
apapun pilihan kalian .
semangat guys !!!!!!
hhhooo!!


Kamis, 28 Mei 2009

malas ??? ada resepnya nih biar gg maLas;)

Resep Anti Malas !!

Rasa Malas dan Cara Mengatasinya

Malas adalah penyakit mental. Siapa dihinggapi rasa malas, sukses
pasti jauh dari gapaian.

Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan
sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam
keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak
tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari
kewajiban, dll. Jika keluarga besar dari rasa malas ini mudah sekali
muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita
akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai
sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita inginkan.

Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Mengapa
disebut penyakit mental? Disebut demikian karena akibat buruk dari
rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa
malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan.
Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang
pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-
individu yang malas tidak jelas tidak akan pernah maju.

Rasa malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk
melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Rasa
malas jenis yang satu ini relatif lebih bisa ditanggulangi. Nah,
bagaimana cara mengatasinya? Berikut kiat-kiatnya:

1. Membuat Tujuan
Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke
arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki
motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan
layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan
hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan
resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup.

Di sinilah pangkal persoalannya. Tanpa tujuan, resolusi, atau
komitmen-komitmen pencapaian hidup, maka seseorang hanya bergerak
secara naluriah dan sangat rentan diombang-ambingkan situasi di
sekelilingnya. Posisi seperti ini membuatnya menjadi pasif, menunggu,
tergantung pada situasi, dan cenderung menyerah pada nasib. Dalam
keadaan seperti ini, tidak akan ada motivasi untuk meraih atau
mencapai sesuatu. Tidak adanya sumber-sumber motivasi hidup
menyebabkan kemalasan.

Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-
tujuan hidupnya. Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi
dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik (GPU, 2004), dia harus
membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai,
dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik). Contoh
komitmen; "pada ulang tahun yang ke …. saya sudah harus
menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan,
mencapai gelar S-3, memiliki rumah dan mobil, melakukan sejumlah
kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama
keluarga."

2. Mengasah Kemampuan

Orang yang memiliki tujuan-tujuan hidup yang pasti, membuat resolusi
dan komitmen-komitmen pencapaian biasanya memiliki motivasi tinggi.
Tetapi tujuan yang samar-samar jelas tidak memberikan dampak
motivasional yang signifikan. Nah, akan lebih baik lagi jika tujuan-
tujuan dilengkapi dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran, seperti
mencari cara-cara yang efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-
tujuan tersebut. Kita juga perlu sekali mengasah kemampuan atau
ketrampilan-ketrampilan supaya langkah-langkah yang diambil itu akan
membawa kita pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien.

Contoh; jika pada tahun yang sudah ditargetkan kita ingin menjadi
konsultan, maka sejak sekarang aktivitas-aktivitas kita sudah harus
difokuskan ke arah tujuan tersebut. Kita harus terus mengasah
kemampuan mendiagnosa masalah, menemukan penyebab, menganalisis,
mengkomunikasikan gagasan, menawarkan solusi, dan memperbaiki
kemampuan presentasi.

Jika aktivitas-aktivitas pembelajaran itu dilakukan secara konsisten
dan dengan komitmen sepenuhnya, maka kita telah berada di jalur yang
benar. Aktivitas-aktivitas pembelajaran akan menempatkan kita pada
posisi dan lingkungan yang dinamis. Kemampuan kita dalam menghadapi
dan menyelesaikan masalah juga akan meningkat. Dengan sendirinya ini
akan semakin memperkuat rasa percaya diri kita, menebalkan komitmen
pencapaian tujuan, dan tentu saja menumbuhkan semangat.

Sebaliknya, jika kita sama sekali menolak aktivitas-aktivitas
pembelajaran, komitmen akan semakin melemah, semangat turun, dan
kemalasan akan datang dengan cepat. Pada titik ini, tujuan-tujuan,
resolusi atau komitmen yang sudah kita buat sudah tidak memiliki arti
lagi. Sayang sekali.

3. Pergaulan Dinamis

Para pemenang berkumpul dengan sesama pemenang, sementara para
pecundang cenderung berkumpul dengan sesama pecundang. Ungkapan
tersebut mengandung kebenaran. Sulit sekali bagi seorang pemalas
untuk hidup di lingkungan para pemenang. Sulit bagi orang malas untuk
berada secara nyaman di tengah-tengah orang yang sangat optimis,
sibuk, giat bekerja, dan bersemangat mengejar prestasi. Demikian
sebaliknya. Sulit sekali bagi para high achiever untuk betah berlama-
lama dengan para orang malas dan pesimistik.

Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya.
Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar
menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa
enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan
mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada
semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian,
dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang
sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan
kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan
masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan
total.

Jika rasa malas mulai menyerbu kita, jangan berlama-lama duduk
berdiam diri. Cara paling ampuh menghilangkan kemalasan adalah
bangkit berdiri dan menghampiri orang-orang yang sedang tekun dan
bersemangat melakukan sesuatu. Dekati mereka yang sedang bekerja
keras untuk meraih impian-impiannya. Manusia-manusia optimis, self-
motivated, punya ambisi, positive thinking, dan memiliki tujuan hidup
pasti, umumnya memancarkan aura positif kepada apa pun dan siapa pun
di sekelilingnya. Pancaran optimisme dan semangat itulah yang bisa
menginspirasi orang lain, bahkan menularkan semangat yang sama
sehingga orang lain jadi ikut tergerak.

4. Disiplin Diri

Ada sebuah ungkapan yang sangat dalam maknanya dari Andrie Wongso,
Motivator No.1 Indonesia, yang bunyinya; "Jika kita lunak di dalam,
maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di
dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita". Kata-kata mutiara
yang luar biasa ini menegaskan, bahwa jika kita mau bersikap keras
pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai
hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras
pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa
kesuksesan bagi karir para olahragawan dan pekerja profesional yang
memang menuntut sikap disiplin dalam banyak hal. Bayangkan, bagaimana
seorang atlet bisa menjadi juara jika dia tidak disiplin berlatih?
Bagaimana mungkin ada pekerja profesional yang bagus karirnya jika
dia sering mangkir atau bolos kerja?

Sebaliknya, jika kita terlalu lunak atau memanjakan diri sendiri,
memelihara kemalasan, mentolerir kinerja buruk, tidak merasa bersalah
jika lalai atau gagal dalam tugas, maka dunia luar akan sangat tidak
bersahabat. Olahragawan yang manja pasti tidak akan pernah jadi
juara. Seorang sales yang malas tidak akan pernah besar penjualannya.
Seorang konsultan yang menolerir kinerja buruk pasti ditinggalkan
kliennya. Dan pekerja yang tidak disiplin pasti mudah jadi sasaran
PHK. Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras pada
kita.

Rasa malas jelas merugikan. Obat mujarabnya adalah menumbuhkan
kebiasaan mendisiplinkan diri dan menjaga kebiasaan positif tersebut.

Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika
kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan
tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan
mempermudah munculnya rasa malas.

Sumber: Rasa Malas dan Cara Mengatasinya oleh Edy Zaqeus. Edy Zaqeus
telah menelorkan buku "Kontekstualisasi Ajaran I Ching" (Grasindo,
2004), dan dua buku lainnya yaitu "Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah"
(Gradien, 2004), dan "Resep Cespleng Berwirausaha" (Gradien, 2004).

berKuaLitas gak???

Kualitas film indonesia ?

Sepertinya kualitas film Indonesia saat ini memang benar-benar perlu dipertanyakan, kalo nggak horor ya komedi seks, iya kalo komedi seks nya mendidik, lha ini komedi seks yang tidak layak di berikan apresiasi sama sekali, apalagi judulnya tuh, menyedihkan sekaLeee!!

Sabtu, 21 Maret 2009

Komunitas Pembuat Film Pendek di UMM

Biaya Hidup lewat Shooting Mantenan

Di Kota Malang sedikitnya ada 25 komunitas kecil pembuat film indie yang tersebar di beberapa kampus. Anggota mereka sekitar 4-10 orang. Rata-rata mereka adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi. Salah satunya di UMM.

Yosi Arbianto

---------------------------------

Malik, Taufana, Rusydi, dan Ahmadin, kemarin tengah membuat storyboard untuk sebuah film pendek yang belum diberi judul. Kebetulan mereka berdikusi di salah satu ruangan di Laboratorium Audio Visual (AV) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Empat personel yang tergabung dalam Makmoer Sedjahtera Community (MSC) tersebut bisa bebas keluar masuk studio karena kebetulan mereka menjadi asisten laboratorium. "Kami selalu diskusi di setiap tahapan. Sehingga semua kru memahami arah dan cerita yang kami visualkan," ungkap Malik, sang penulis skrip film pendek.

Komunitas kecil pembuat film pendek terus tumbuh di Kota Malang. Banyak sebutan bagi mereka. Komunitas pembuat film indie, komunitas sinematografi, komunitas sineman (sinematografi manten). Sebutan yang terakhir itu karena mereka sering ngobyek untuk shooting resepsi pengantin (mantenan). "Order mantenan itu yang menghidupi separo nyawa komunitas kami," kata Taufana.

Anggota komunitas pembuat film pendek biasanya dari latar belakang yang sama. Itu juga yang terjadi saat awal pembentukan MSC. Para personelnya adalah mahasiswa komunikasi konsentrasi audio visual. Delapan anggotanya rata-rata angkatan 2004. "Pas ngumpul semester satu silam, kami ternyata sepaham untuk bikin komunitas pembuat film. Kami pun langsung bentuk komunitas dan menggarap film," cerita Malik.

Perjalanan komunitas dalam membuat film pendek menarik disimak. Di awal perjalanan, kadang banyak yang menjadi bahan tertawaan. Di MSC misalnya, film pertama yang dibuat dengan modal nekad. Artinya, belum mendapatkan materi kuliah sinematografi, mereka pun memutuskan membuat film.

Judul yang dipilih saat itu adalah second target. Film bercerita tentang hubungan sesama jenis alias homo. "Saat itu kami di semester satu. Pikirannya pokoknya buat film. Gimana nanti, pokoknya jalan. Gitu mikirnya" jelas Malik.

Biaya membuat film diperoleh dengan patungan. Skenario, skrip, dan storyboard dibuat tanpa perencanaan yang matang. Asal tulis dan yang penting ada cerita. Sedangkan aktor dan aktris dirangkap oleh kru. Dan alat-alat produksi mengandalkan sewa. "Sewa handycam Sony Hi-8 Rp 75 ribu per hari. Tiga hari nggak kuat bayar, akhirnya kami pinjam milik teman," imbuh Taufana, seraya menertawakan kekonyolan kala itu.

Proses perekaman pun seperti halnya operasional still camera alias tak ada pergerakan dan angle berbeda. Hanya pengambilan gambar maju mundur, mengandalkan zoom. Proses editing, termasuk rendering pun masih dilakukan dengan "bekerja sambil belajar".

Karena nekad tersebut, durasi film yang dihasilkan pun sangat panjang, sekitar 1,2 jam. Padahal, film pendek biasanya berdurasi 10-30 menit saja. "Setelah mendapatkan mata kuliah sinematografi dan menjadi asisten, cara kerja kami sudah berubah," imbuh Rusydi.

Mengikuti festival film juga menjadi salah satu kegiatan komunitas film pendek. Di MSC, sedikitnya dua festival pernah diikuti. Film berjudul Demi yang bercerita tentang budaya carok diikutkan dalam J-Fival (Jember Film Festival) dan berhasil menjadi juara. Sedangkan film satu lagi berjudul Suwar Suwir untuk Anak diikutkan dalam lomba Maviefest 08 (Malang Movie Festival) yang dihelat oleh Kineklub UMM. "Ke depan, kami ingin bikin PH (production house) di Banjarmasin," ungkap Malik.

Selain MSC, B-Plus adalah komunitas pembuat film indie yang lain. Sejak 2007 lalu, komunitas ini lebih banyak terjun ke komersil. Meski misi awalnya adalah untuk komunitas pembelajaran. Membuat iklan, program TV, dokumenter hingga profil telah dilakukan B-Plus. Semua itu bisa mendatangkan pemasukan bagi lima anggotanya.

Membuat film lepas juga tetap dilakukan. Misalnya film berjudul Karpet Merah yang diikutkan dalam Maviefest 08. "Kami juga menjajaki pelatihan-pelatihan. Termasuk mendatangkan sutradara untuk studi. Rencananya ini datangnya Nawir Hamzah dan Aji Jamil," kata Basuki Ratminto, pentolan B-Plus.

Sedikitnya lima film lepas telah dihasilkan B-Plus. Sebanyak empat film diikutkan dalam festival. Komunitas beranggotakan mahasiswa UMM angkatan 2004-2005 ini berupaya untuk menyatukan misi pembelajaran dengan pendapatan materi. "Kalau nanti kami lulus, kami akan tetap sesuai jalur. Yakni membuat B-Plus Production," kata Basuki.