Biaya Hidup lewat Shooting Mantenan
Di Kota Malang sedikitnya ada 25 komunitas kecil pembuat film indie yang tersebar di beberapa kampus. Anggota mereka sekitar 4-10 orang. Rata-rata mereka adalah mahasiswa di beberapa perguruan tinggi. Salah satunya di UMM.
Yosi Arbianto
---------------------------------
Malik, Taufana, Rusydi, dan Ahmadin, kemarin tengah membuat storyboard untuk sebuah film pendek yang belum diberi judul. Kebetulan mereka berdikusi di salah satu ruangan di Laboratorium Audio Visual (AV) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Empat personel yang tergabung dalam Makmoer Sedjahtera Community (MSC) tersebut bisa bebas keluar masuk studio karena kebetulan mereka menjadi asisten laboratorium. "Kami selalu diskusi di setiap tahapan. Sehingga semua kru memahami arah dan cerita yang kami visualkan," ungkap Malik, sang penulis skrip film pendek.
Komunitas kecil pembuat film pendek terus tumbuh di Kota Malang. Banyak sebutan bagi mereka. Komunitas pembuat film indie, komunitas sinematografi, komunitas sineman (sinematografi manten). Sebutan yang terakhir itu karena mereka sering ngobyek untuk shooting resepsi pengantin (mantenan). "Order mantenan itu yang menghidupi separo nyawa komunitas kami," kata Taufana.
Anggota komunitas pembuat film pendek biasanya dari latar belakang yang sama. Itu juga yang terjadi saat awal pembentukan MSC. Para personelnya adalah mahasiswa komunikasi konsentrasi audio visual. Delapan anggotanya rata-rata angkatan 2004. "Pas ngumpul semester satu silam, kami ternyata sepaham untuk bikin komunitas pembuat film. Kami pun langsung bentuk komunitas dan menggarap film," cerita Malik.
Perjalanan komunitas dalam membuat film pendek menarik disimak. Di awal perjalanan, kadang banyak yang menjadi bahan tertawaan. Di MSC misalnya, film pertama yang dibuat dengan modal nekad. Artinya, belum mendapatkan materi kuliah sinematografi, mereka pun memutuskan membuat film.
Judul yang dipilih saat itu adalah second target. Film bercerita tentang hubungan sesama jenis alias homo. "Saat itu kami di semester satu. Pikirannya pokoknya buat film. Gimana nanti, pokoknya jalan. Gitu mikirnya" jelas Malik.
Biaya membuat film diperoleh dengan patungan. Skenario, skrip, dan storyboard dibuat tanpa perencanaan yang matang. Asal tulis dan yang penting ada cerita. Sedangkan aktor dan aktris dirangkap oleh kru. Dan alat-alat produksi mengandalkan sewa. "Sewa handycam Sony Hi-8 Rp 75 ribu per hari. Tiga hari nggak kuat bayar, akhirnya kami pinjam milik teman," imbuh Taufana, seraya menertawakan kekonyolan kala itu.
Proses perekaman pun seperti halnya operasional still camera alias tak ada pergerakan dan angle berbeda. Hanya pengambilan gambar maju mundur, mengandalkan zoom. Proses editing, termasuk rendering pun masih dilakukan dengan "bekerja sambil belajar".
Karena nekad tersebut, durasi film yang dihasilkan pun sangat panjang, sekitar 1,2 jam. Padahal, film pendek biasanya berdurasi 10-30 menit saja. "Setelah mendapatkan mata kuliah sinematografi dan menjadi asisten, cara kerja kami sudah berubah," imbuh Rusydi.
Mengikuti festival film juga menjadi salah satu kegiatan komunitas film pendek. Di MSC, sedikitnya dua festival pernah diikuti. Film berjudul Demi yang bercerita tentang budaya carok diikutkan dalam J-Fival (Jember Film Festival) dan berhasil menjadi juara. Sedangkan film satu lagi berjudul Suwar Suwir untuk Anak diikutkan dalam lomba Maviefest 08 (Malang Movie Festival) yang dihelat oleh Kineklub UMM. "Ke depan, kami ingin bikin PH (production house) di Banjarmasin," ungkap Malik.
Selain MSC, B-Plus adalah komunitas pembuat film indie yang lain. Sejak 2007 lalu, komunitas ini lebih banyak terjun ke komersil. Meski misi awalnya adalah untuk komunitas pembelajaran. Membuat iklan, program TV, dokumenter hingga profil telah dilakukan B-Plus. Semua itu bisa mendatangkan pemasukan bagi lima anggotanya.
Membuat film lepas juga tetap dilakukan. Misalnya film berjudul Karpet Merah yang diikutkan dalam Maviefest 08. "Kami juga menjajaki pelatihan-pelatihan. Termasuk mendatangkan sutradara untuk studi. Rencananya ini datangnya Nawir Hamzah dan Aji Jamil," kata Basuki Ratminto, pentolan B-Plus.
Sedikitnya lima film lepas telah dihasilkan B-Plus. Sebanyak empat film diikutkan dalam festival. Komunitas beranggotakan mahasiswa UMM angkatan 2004-2005 ini berupaya untuk menyatukan misi pembelajaran dengan pendapatan materi. "Kalau nanti kami lulus, kami akan tetap sesuai jalur. Yakni membuat B-Plus Production," kata Basuki.
Sabtu, 21 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

kembangkan ide dan kreatifitasmu
BalasHapushidup sineas malang!!!!!
yang aku tahu komunitas paling oke semalang raya YA KINE KLUB UMM DI SC LANTAI 3 KAMPUS 3 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG....udah liat film terbarunya berjudul "TERBENAM"??? keren llllhhhooooo.........
BalasHapusya aq sih berharap dengan banyaknya komunitas film dapat memajukan industri perfilman INDONESIA!!!! Merdeka!!!!!
BalasHapussiiippp!!!
BalasHapuskalo kine????
BalasHapushehehe
iya bener...............
BalasHapus